Katalog Buku
1101. Musim Mengenang Ibu
Buku Kumpulan Puisi 'Musim Mengenang Ibu' ini berisi ratusan puisi Dodi Prananda yang ditulis sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2011. Beberapa puisi yang terhimpun dalam buku ini telah dimuat di media cetak. Puisi-puisi dalam buku ini banyak bercerita tentang kecintaan seorang anak pada Ibu dan Ayah; sebab sosok Ibu dan Ayah kerap menjadi inspirasi bagi Dodi dalam menulis. Hal lainnya yang juga diangkat dalam puisi-puisi di buku ini adalah tentang kehidupan Kota Jakarta dan sebagian lagi tentang lingkungan, memoar sahabat dan kerabat, serta cinta. Selain juga pernah dimuat di media, beberapa puisi lain juga pernah meraih sejumlah penghargaan dalam kompetisi puisi baik di level provinsi dan nasional.1102. Musim Panas di Atas Kursi Roda di Jepang 2019 : Badai Krosa & Sosial Jepang
Ini buku pertama dari 5 buku “Serial Musim Panas di Jepang” tahun 2019, dan ini serial kedua, dimana serial pertama sudah aku launching pada bulan Oktober 2019 lalu. Buku pertama ini, aku mengawali musim panas di Jepang tahun 2019 ini, dengan adanya Badai Krosa. Ya, ketika sebelum aku terbang ke Jepang pada bulam Agustur 2019 lalu, memang ada sebuah badai angin putting beliung yang akan melanda Jepang di wilayah Kansai. Badai itudiperkirakan bukan hanya 1 atau 2 haris saja, bahkan sampai berminggu2. Sehingga, ketika aku disana, aku pun sempat kena imbasnya. Walaupun Badai Krosa melanda wilayah Kansai, tetapi imbasnya atau buntut angin putting beliungnya, sempat berada di wilayah Kanto dan Tokyo. Cerita itu berujung dengan datangnya Tuhan Yesus di hadapanku! Ketika aku berada dilingkaran Badai Krosa, dan aku tidak bisa pulang ke Tokyo, DIA tiba2 datang dan berada di drpanku sebagai seorang Hiyoko …… *** Bukan itu saja, tetapi ceritaku tentang disabilitas dan kaum prioritas di Jepang yang seperti “raja” dan dimanjakan, serta beberapa museum2 milenial yang aku datangi, ada di buku pertama ini. Termasuk beberapa catatan kecil dan unik tentang Jepang …..1103. Musim Panas di Jepang 2019 : Quality Time Mother-Daughter
Sebenarnya, bukan hanya ke Kamakura atau ke Minami Funabashi saja aku bersama Michelle, di musim panas di Jepang tahun 2019 lalu. Aku juga bersama2 dengan Michelle, ketika seharian kami dijemput oleh atasannya di Seven Eleven, Mr.Sugiyama untuk berlibur di Kawaguchiko dan Narusawa Villake serta Yamanaka Lake. “Quality time” dengan Michelle ke “rumah Doraemon”, di Museum Fujiko F.Fujio, di Kwasaki. Dimana Michelle bersuka ria di tempat Doraemon, temat yang diidam2kan sejak dia masih duduk di sekolah taman anak2. “Quality Time” ku dengan Michelle malaikat kecilku, tidak berhenti sampai disini saja. Dengan masak memasak di apartemennya, serta kemanjaan dengan meminta aku membelanjakannya bahan2 makanan untuk dimasak, atatu sekedar membuatkan susu di pagi hari sebelum dia kuliah, atau dimalam hari sebelum dia tidur sambil kupeluk, itu merupakan kebahagiaan utamaku, ketika aku menjenguknya di Jepang setiap 3 bulan sekali. Jadi, tidak ada kata berhenti untuk ber-“quality time” antara aku dan anakku Michelle. Kami akan selalu bersama …..1104. Musim Panas di Kursi Roda Jepang 2019 : Kobe & Nara With Love
Kobe dan Nara, adalah kota2 yang meninggalkan berkas “cinta” untukku ….. Kobe merupakan kota tempat tinggal teman kecilku sewaktu TK, Hananto Baskoro, dengan kekuargnya. Dan, ketika aku berkunjung kesana, Bas dan Michiko istrinya, mengantar dan menjemputku, membawaku berjalan2 dan menjamuku dengan steak sapi Kobe yang terkenal itu! Dan, Nara merupakan kota cantik dengan kijang2 totol yang menggemaskan! Sempat kijang2 totol itu, “memakan” paper-bag ku, dan juha “memakan” tag disabilitasku ….. Hahaha ….. Dan ketika aku bergerak pulang ke Tokyo, Badai Krosa menghampiriku, dan aku terjebak di dalamnya …… Jika tidak ada Tuhan Yesus ku, Badai Kroa itu benar2 menelan jiwaku! Dalam kepanjangan tangan Tuhan Yesus ku lewat seorang petugas stasiun perempuan bernama Hyoko, aku terselamatkan dari Badai Krosa, dan aku pulang dengan selamat ke Tokyo ….. Musim panas Jepang tahun 2019, merupakan musim panas yang tidak pernah terlupakan ……1105. Mutiara Cinta Hilal Fajri
Mutiara-Mutiara Cinta yang tertahan oleh restu Ibunda. Bagaimanakah akhirnya?1106. Mutiara Kehidupan Berbalut Salju
Penulis ingin sedikit bercerita tentang Kota Hammerfest, kota paling utara di Norwegia, mungkin di dunia.Lokasinya berdekatan dengan Kutub Utara.1107. Mutiara Relung Hati (Antologi Puisi)
Cobalah maknai setiap mutiara yang hadir dari relung hati mereka, percayalah walau hadir dari berbagai muara ternyata setiap maknanya adalah sebuah keindahan, kedamaian yang akan membawa kembali berkaca pada berbagai peristiwa sepanjang zaman.1108. My 'kampungan' Name
Siti Haryono merasa nggak pede dengan namanya yang dianggapnya kampungan dan pasaran. Padahal, Siti Haryono adalah nama pemberian sang kakek yang dipercaya memiliki kekuatan karena bisa melindungi Siti dari mara bahaya. Tentu saja, Siti nggak percaya. Gadis itu ingin sekali bisa mengubah namanya menjadi nama yang berbau modern. Apalagi sejak hatinya mulai kepincut pada seorang cowok keren bernama Gerald. Rasanya aneh dan nggak matching banget kalau nama Siti bersanding dengan nama Gerald. Tetapi, niat Siti mengubah namanya dilarang keras oleh mama. Siti pun hanya bisa pasrah sambil merenungi nasib ‘namanya’. Hingga suatu hari terjadi peristiwa penculikan seorang siswi bernama Ciska Natasha yang bila dilihat sekilas wajahnya mirip dengan Siti. Untunglah Ciska Natasha berhasil meloloskan diri dari penculiknya sehingga bisa membeberkan siapa pelakunya. Ternyata setelah diselidiki lebih lanjut, kisah penculikan Ciska Natasha berkaitan erat dengan Siti Haryono. Apakah ituuuu? Apakah ada hubungannya dengan nama Siti ?1109. My Blues
Jiyong yang telah lama ditinggalkan oleh tunangan semasa kecilnya harus bertemu dengan seorang gadis yang memiliki kesamaan dengan Kim Soohe, tunangannya. Benar saja, semasa kecil ia sudah dijodohkan dengan seorang gadis cantik yang bernama Soohe. Mereka saling menyukai dan mereka memang sudah kenal sejak mereka dalam kandungan, mereka sangat dekat dan karena itulah mereka dijodohkan. Sekitar 8thn telah berlalu, sejak Soohe mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kematian. Jiyong yang tidak bisa melupakan Soohe terus mengunci hatinya rapat-rapat. Dan diawal mereka memasuki semester baru di sekolah, Jiyong bertemu dengan seorang gadis yang sangat membuatnya jengkel dan marah, gsdis itu bernama Lee Hanna. Hanna menyukai warna biru dan itu mengganggu Jiyong. Jiyong yang sangat keras melarang semua orang menyukai dan memakai warna biru di sekolah, tiba-tiba melihat Hanna yang terang-terang mengenakain semua peralatan sekolahnya yang berwarna biru. Jiyong marah, sangat marah. Jiyong mulai berusaha mengeluarkan Hanna dari sekolah namun selalu gagal, Hanna mengatakan dia tidak akan pergi sebelum bulpen yang diambil Jiyong ia kembalikan. Ia bersikeras tidak akan pergi, ia membutuhkan Bulpen itu untuk kembali. Tak disangka-sangka, Roh yang bersemayam dalam tubuh Hanna adalah Soohe. Ia meminjam tubuh Hanna dan memasukkan rohnya dalam sebuah wadah yang mirip dengan bulpen, dan apakah yang terjadi setelah bulpen itu dipatahkan oleh Jiyong, bisakah Soohe kembali dan bagaimana nasih roh-nya Hanna yang sebenarnya.....1110. My Dream and My Teacher
Dulu, ketika ditanya; apakah cita-citamu? Kebanyakan anak-anak dimasa kami, menjawabnya; dokter, insinyur. Entah darimana, tapi itu tetap terjadi ketika puluhan tahun usia kami dilewati, ternyata masih mudah menemukan jawaban tersebut. Yang lebih jamak lagi, di Sangatta, bukan lagi dokter atau insinyur saja, tapi ditambah; kerja tambang seperti ayah! Ini fakta, ternyata lingkungan lebih besar pengaruhnya terhadap pembentukan cita-cita seorang anak. Begitu pula ketika buku ini disusun.Ketika ada sebuah kalimat; Andai aku menjadi guru? Banyak kalimat dari anak-anak usia kelas 3 hingga kelas 6 SD ini menjadi sangat ‘berisi’ serta dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka menimba ilmu. ‘Kritis’ dan mungkin belum kita temukan pada saat kita seusia mereka.Seperti di kalimat mereka; menjadi guru, dengan memotivasi anak didik untuk selalu bersemangat, ceria dalam bergaul, mewariskan semua ilmu yg mereka miliki, hingga memotivasi anak didik agar kelak tidak menjadi koruptor di kemudian hari, MEngharukan. Sekali lagi, lingkungan mempunyai peran besar dalam pola berpikir anak-anak. Buku ini sebagian menggambarkan apa saja yang anak-anak akan lakukan seandainya mereka menjadi guru. Dari goresan pena yg mereka torehkan, kita semakin menyadari bahwa menjadi guru bukanlah cita-cita yang lekang dimakan jaman. Cita-cita yang masih mereka anggap sesuatu yang akan selalu mempunyai nilai lebih, walau mungkin di daerah pertambangan, menjadi guru bukanlah popular dibanding profesi lain. Selamat anak-anakku! Dengan mempunyai tulisan dalam buku ini, adalah langkah awal kalian dalam memberikan nilai ‘lebih’ dari seorang guru, yg ikhlas membagikan ilmu yg dimiliki.Sebelumnnya [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45] [46] [47] [48] [49] [50] [51] [52] [53] [54] [55] [56] [57] [58] [59] [60] [61] [62] [63] [64] [65] [66] [67] [68] [69] [70] [71] [72] [73] [74] [75] [76] [77] [78] [79] [80] [81] [82] [83] [84] [85] [86] [87] [88] [89] [90] [91] [92] [93] [94] [95] [96] [97] [98] [99] [100] [101] [102] [103] [104] [105] [106] [107] [108] [109] [110] [111] [112] [113] [114] [115] [116] [117] [118] [119] [120] [121] [122] [123] [124] [125] [126] [127] [128] [129] [130] [131] [132] [133] [134] [135] [136] [137] [138] [139] [140] [141] [142] [143] [144] [145] [146] [147] [148] [149] [150] [151] [152] [153] [154] [155] [156] [157] [158] [159] [160] [161] [162] [163] [164] [165] [166] [167] [168] [169] [170] [171] [172] [173] [174] [175] [176] [177] [178] [179] [180] [181] [182] [183] [184] [185] [186] Selanjutnya